KETIDAKHADIRAN KEBAHAGIAAN TANPA KESADARAN JIWA DALAM PEMIKIRAN IBN MISKAWAIH (PERSPEKTIF ETIKA DIRI)

Amna, Siti Saalimatul (2026) KETIDAKHADIRAN KEBAHAGIAAN TANPA KESADARAN JIWA DALAM PEMIKIRAN IBN MISKAWAIH (PERSPEKTIF ETIKA DIRI). Other thesis, IAIN SALATIGA.

[img] Text
SKRIPSI SITI SAALIMATUL AMNA 53050210016 PERPUS (1).pdf

Download (1MB)
[img] Text
SKRIPSI SITI SAALIMATUL AMNA 53050210016 PERPUS (1).pdf

Download (1MB)
[img] Text
SKRIPSI SITI SAALIMATUL AMNA 53050210016 PERPUS (1).pdf

Download (1MB)
[img] Text
SKRIPSI SITI SAALIMATUL AMNA 53050210016 PERPUS (1).pdf

Download (1MB)
[img] Text
SKRIPSI SITI SAALIMATUL AMNA 53050210016 PERPUS (1).pdf

Download (1MB)
[img] Text
SKRIPSI SITI SAALIMATUL AMNA 53050210016 PERPUS (1).pdf

Download (1MB)
[img] Text
SKRIPSI SITI SAALIMATUL AMNA 53050210016 PERPUS (1).pdf

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep ketidakhadiran kebahagiaan tanpa kesadaran jiwa dalam pemikiran Ibn Miskawaih dengan perspektif etika diri. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena kehidupan modern yang menunjukkan paradoks kebahagiaan, di mana manusia sering kali merasa hampa dan tidak bahagia meskipun telah mencapai keberhasilan material dan sosial. Ibn Miskawaih, sebagai salah satu tokoh etika Islam klasik, menegaskan bahwa kebahagiaan sejati (as-sa‘ādah al-ḥaqīqiyyah) tidak bersumber dari kondisi eksternal, melainkan dari kesempurnaan jiwa yang sadar, seimbang, dan berakhlak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan sumber utama karya Ibn Miskawaih Tahdzīb al-Akhlāq wa Tathhīr al-A‘rāq serta didukung oleh literatur relevan lainnya. Analisis data dilakukan melalui metode analisis isi dan pendekatan filosofis untuk menafsirkan konsep kebahagiaan, kesadaran jiwa, dan etika diri secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Ibn Miskawaih, ketidakhadiran kebahagiaan berakar pada lemahnya kesadaran jiwa, yakni ketidakmampuan manusia mengenali hakikat dirinya dan mengendalikan tiga kekuatan jiwa akal, amarah, dan syahwat secara seimbang. Etika diri berfungsi sebagai sarana pembinaan jiwa melalui refleksi diri, penyucian jiwa, dan pembiasaan moral, sehingga manusia dapat mencapai kebahagiaan yang bersifat stabil dan bermakna. Penelitian ini menegaskan relevansi pemikiran Ibn Miskawaih bagi kehidupan modern, terutama sebagai kritik terhadap pandangan hedonistik tentang kebahagiaan dan sebagai tawaran konseptual untuk membangun kebahagiaan sejati yang berakar pada kesadaran moral dan spiritual. Kata kunci: kebahagiaan, kesadaran jiwa, etika diri, Ibn Miskawaih, filsafat Islam.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: Filsafat dan Epistemologi
Depositing User: Unnamed user with email bimoharyosetyoko@iainsalatiga.ac.id
Date Deposited: 07 Mar 2026 16:57
Last Modified: 07 Mar 2026 16:57
URI: http://e-repository.perpus.uinsalatiga.ac.id/id/eprint/26479

Actions (login required)

View Item View Item